LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
DASAR BUDIDAYA TANAMAN
“Bahan Tanam Vegetatif Kunyit
(Curcuma domestica Val.)”
Disusun oleh:
Alius wandik dengang ekor NIM, 001
Kelas: V Program Studi: Agribisnis
Asisten Kelas :
Wirda Azzah
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG 2021
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM DASAR
BUDIDAYA TANAMAN
Kelas
: V
Disetujui Oleh : Asisten Kelas,
Wirda Azzahra NIM. 111198
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG 2021
KATA PENGANTAR
Segala puji kepada Tuhan Yang Maha Esa
yang telah memberikan berkah, rahmat,
dan hidayah kepada hamba-hamba-Nya. Rasa syukur pun tak semestinya berpaling atas karunia-Nya sehingga saya
dapat melaksanakan praktikum Dasar Budidaya
Pertanian dan mampu menyelesaikan penulisan laporan akhir praktikum Dasar
Budidaya Tanaman yang berjudul “Bahan Tanam Vegetatif
Kunyit (Curcuma domestica Val.)”
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada orang tua yang selalu mendoakan, dosen pengampu mata
kuliah Dasar Budidaya Tanaman Untuk
itu, penulis menyampaikan terimakasih kepada Dosen Dasar Budidaya Tanaman Ibu Dr. Euis Elih Nurlaelih, SP, MSi dan
Ibu Dr. Ir. Titin Sumarni, MS., serta
asisten kelas V yaitu Wirda Azzahra dan para asisten lain yang telah membantu kelancaran praktikum sehingga laporan
ini dapat selesai tepat pada waktunya.
Penulis
menyadari bahwa masih terdapat kesalahan
dalam pembuatan laporan
ini. Oleh karena itu, penulis
menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat
kekurangan dalam pembuatan laporan ini, maka
dari itu penulis sangat memerlukan kritik dan saran yang membangun
sebagai acuan selanjutnya dalam
pembuatan laporan yang lebih baik lagi dikemudian hari agar laporan ini dapat bermanfaat
bagi semua pihak dan bagi penulis.
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN.................................................................................... ii
DAFTAR TABEL
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara
penghasil rempah-rempah terbanyak di dunia. Indonesia
menduduki urutan lima dengan jumlah produksi 110,387
ton/tahun. (Food and Agriculture Organization, 2017). Salah satu
rempah-rempah yang tumbuh di Indonesia adalah tanaman kunyit (Curcuma domestica Val.). Tanaman kunyit merupakan salah satu komoditas rempah yang
memiliki nilai jual tinggi, karena
kunyit digunakan untuk obat herbal dan bumbu dapur masyarakat Indonesia. Faktor yang menyebabkan
produksi tanaman kunyit cenderung terus meningkat,
karena kunyit di percaya dapat menjaga sistem imunitas tubuh. Satu tahun belakangan ini, permintaan
akan kunyit terus meningkat
karena kunyit dikatakan
bisa menjaga imun tubuh dari Covid-19. Kandungan
utama dalam rimpang
kunyit diantaranya adalah minyak atsiri,
kurkumin, resin, dan oleoresin.
Menurut
Badan Pusat Statistika (2018) produksi
kunyit pada tahun 2017 memiliki
luas panen 50.464.523 hektar dengan
total produksi 112.088 ton/ha. Pada tahun 2018 luas panen kunyit yaitu 56.578.610
hektar dengan total produksi
113.101 ton/ha. Berdasarkan
data, diketahi bahwa produksi kunyit mengalami
peningkatan hasil panen yang sangat sedikit. Kunyit sebagai salah satu
komoditas rempah terbesar, memerlukan
penanganan yang tepat agar produksi dan kualitas kunyit terjamin. Pengembangan tanaman kunyit terhambat oleh
teknik budidaya yang kurang optimal dan keterbatasan teknologi. Salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas kunyit adalah
penggunaan pupuk dan pestisida. Oleh karena itu, diperlukan adanya peningkatan produksi kunyit di Indonesia.
Upaya yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan produksi tanaman kunyit adalah
memberi perlakuan sesuai kebutuhan tanaman, memilih media tanam yang sesuai,
dan pemberian pupuk secara rutin.
Media tanam adalah media yang digunakan
untuk menumbuhkan tanaman, tempat
akar atau bakal akar akan tumbuh dan berkembang (Wuryaningsih, 2018). media tanam yang sesuai untuk tanaman
kunyit, terdiri dari tanah, pupuk arang, dan
pupuk debu arang. Media tanam sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Campuran beberapa bahan untuk
media tanam harus menghasilkan hasil yang tepat
karena setiap jenis media mempunyai pengaruh
yang berbeda bagi tanaman.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan ini
adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam berupa tanah dengan campuran arang debu terhadap
pertumbuhan dan perkembangan komoditas tanaman kunyit.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Kunyit (Curcuma domestica
Val.)
Tanaman kunyit adalah salah satu jenis tanaman
rempah yang dimiliki
segudang manfaat dan banyak digunakan
oleh masyarakat. Kunyit (Curcuma domestica Val.) merupakan salah satu
tanaman obat temu-temuan yang berpotensi untuk
dibudidayakan (Syukur et al., 2006). Kandungan utama dalam rimpang kunyit diantaranya adalah minyak atsiri,
kurkumin, resin, oleoresin, desmetoksikurkumin, bidesmetoksikurkumin, lemak, protein,
kalsium, fosfor dan besi (Sihobing,
2007). Kunyit dapat digunakan sebagai bahan pewarna, bahan campuran kosmetika, bakterisida, fungisida
dan stimulan (Bursatriannyo et al., 2014).
Selain itu, tanaman kunyit bisa digunakan untuk menjaga imunitas tubuh, mengibati gusi bengakak, mengobati
gangguan pencernaan, dan dapat digunakan sebagai obat penurun tekanan
darah.
gambar 1. Tanaman Kunyit (Curcuma domestica
Val.) (kabartani.com 2016)
Klasifikasi
Menurut Winarto (2003), taksonomi tanaman kunyit dikelompokkan sebagai berikut :
a. Kerajaan :
Plantae
b.
Divisio : Spermatophyta
c.
Sub-diviso : Angiospermae
d.
Kelas : Monocotyledoneae
e.
Ordo : Zingiberales
f.
Famili : Zungiberaceae
g.
Genus : clan
h.
Species : Curcuma
domestica Val.
TaTanaman
kunyit tumbuh bercabang
dengan tinggi 40-100 cm. Batang merupakan
batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun
(agak lunak). Daun tunggal, bentuk bulat
telur (lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8-12,5 cm dan pertulangan menyirip
dengan warna hijau pucat. Berbunga
majemuk yang berambut
dan bersisik dari pucuk batang
semu, panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5 cm, berwarna putih/kekuningan. Ujung dan pangkal
daun runcing, tepi daun yang rata.
Kulit luar rimpang berwarna jingga kecoklatan, daging buah merah jingga kekuning-kuningan. Beberapa
kandungan zat kimia yang terdapat dalam
kunyit, diantaranya arabinosa, fruktosa, glukosa, kalsium, kalium natrium, kobalt, zat warna kurkumin, dan minyak
atsiri. Kandungan yang terdapat pada kunyit bermanfaat
bagi kekebalan tubuh manusia.
Kandungan utama rimpang kunyit adalah
kurkuminoid dan minyak atsiri. Kurkuminoid
adalah demetoksikurkumin dan bismideksikurkumin pada tanaman kunyit memiliki konsentrasi sebesar 3%.
Kurkuminoid memiliki bentuk kristal prisma
atau disebut batang pendek yang membentuk emulsi dan tidak larut dalam air. Selain itu, kurkumin dapat dengan
mudah larut dalam aseton, etanol, metanol, bensen,dan khloroform. Kurkuminoid inilah yang memberikan kesan warna kuning jingga pada tanaman kunyit.
Kandungan minyak atsiri pada kunyit memiliki
persentase sebesar 6 %. Minyak atsiri pada kunyit terbagi lagi dalam komponen
artumeron, tumerol, alfa atlanton, beta klairofilen, linalol,
dan b
2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Kunyit (Curcuma domestica
Val.)
Tanaman
kunyit sangat cocok di budidayakan pada tempat terbuka
karena tanaman kunyit memerlukan intensitas cahaya matahari penuh. klim
yang baik untuk budidaya kunyit adalah daerah yang memiliki
curah hujan 1.000 -
4.000 mm / tahun. Apabila
kunyit ditanam pada daerah dengan curah hujan
kurang dari 1.000 mm / tahun maka diperlukan sistem perairan yang harus tersedia
dan ditata dengan baik. Sebaiknya
menanamnya pada awal musim penghujan. Budidaya kunyit bisa di
budidayakan sepanjang tahun, dengan suhu udara
optimum sekitar 19 - 30 ºC. Tumbuhan
kunyit bisa tumbuh baik pada dataran rendah pada ketinggian kurang dari 240 meter dari permukaan laut. Pada dataran tinggi tanaman kunyit dapat tumbuh
pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.
Kondisi media tanam yang cocok untuk
tanaman kunyit adalah Kondisi tanah
yang gembur atau tanah berpasir yang memudahkan tanaman kunyit untuk berkembang. Jenis tanah yang diinginkan adalah tanah ringan dengan bahan organik tinggi,
seperti tanah lempung
berpasir yang terbebas
dari genangan air/sedikit basah. PH tanah yang cocok
untuk media tanam kunyit sekitar 7,35 sampai7,45Degradasi
kunyit tergantung pada pH dan berlangsung lebih cepat pada
kondisi netral-basah (Aggarwal
et al., 2003).
2.3
Teknik Budidaya
Tanaman Kunyit (Curcuma domestica
Val.)
2.3.1 Persiapan Bahan
Tanam dan Media
Tanam
Bibit kunyit yang baik berasal dari
pemecahan rimpang karena bibit yang berasaal
dari rimpang lebih mudah tumbuh. Untuk memilih bibit sebaiknya dipilih dari tanaman yang subur, segar, sehat,
berdaun banyak kokoh, dan tidak terserang penyakit.
Pilih bibit yang telah memiliki umur dan berasal dari rimpang yang berumur
kurang lebih 7 - 12 bulan. Pemilihan bibit sangat penting, rimpang yang telah terpilih dipotong untuk mendapatkan
ukuran dan berat yang seragam, untuk memperkirakan banyaknya
mata tunas / rimpang.
Kemudian bekas potongan ditutup dengan sekam
atau bisa juga dengan merendam
potongan kunyit kedalam fungisida seperti
benlate atau agrymicin
untuk menghindari pertumbuhan jamur. Setiap
potongan rimpang paling
banyak memiliki 1 - 3 mata
tunas, dengan berat antara 20 - 30 gram dan panjang 3 - 7 cm. Media
tanam
yang
digunakan untuk
budidaya kunyit adalah media tanam yang terdiri dari tanah, pupuk kompos, dan pupuk kandang.
Media tanam sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.
Campuran beberapa bahan
untuk media tanam harus
menghasilkan struktur yang
tepat karena setiap
jenis media tanam mempunyai pengaruh yang berbeda bagi tanaman.
2.3.2 Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman kunyit meliputi
beberapa tahap, yaitu penyiangan, pemupukan, pembumbunan, dan penyiraman.
Penyiangan dan pembubunan perlu dilakukan untuk menghilangkan rumput liar (gulma)
yang mengganggu penyerapan air, unsur hara dan mengganggu
perkembangan tanaman. Kegiatan ini dilakukan
3 - 5 kali bersamaan dengan pemupukan dan penggemburan tanah. Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman
berumur setengah bulan, bersamaan
dengan ini maka dilakukan pembubunan guna merangsang rimpang agar tumbuh besar dan tanah tetap gembur.
Seperti halnya tanaman rimpang
lainnya, pada kunyit pekerjaan pembubunan ini diperlukan untuk menimbun kembali daerah perakaran dengan tanah yang
melorot terbawa air. Pembubunan bermanfaat untuk memberikan kondisi
media sekitar perakaran
lebih baik sehingga
rimpang akan tumbuh subur dan bercabang banyak.
Pembubunan biasanya dilakukan
setelah kegiatan penyiangan dan biasanya dilakukan secara rutin setiap 3-4 bulan sekali.
Penggunaan pupuk kandang dapat meningkatkan jumlah anakan, jumlah daun,
dan luas area daun kunyit. Selain pupuk dasar, tanaman kunyit perlu diberi pupuk susulan kedua tepatnya pada saat
tanaman berumur 2 - 4 bulan. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik.
Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk
kandang dan pupuk buatan. Tanaman kunyit termasuk tanaman tidak tahan air. Oleh sebab itu drainase dan
pengaturan pengairan perlu dilakukan secermat
mungkin, agar tanaman
terbebas dari genangan
air sehingga rimpang
tidak membusuk. Perbaikan
drainase baik untuk melancarkan dan mengatur aliran air serta sebagai penyimpan air di saat musim kemarau.
2.3.3 Panen
Ciri dan umur panen, tanaman kunyit siap
dipanen pada kisaran umur 8 - 18 bulan,
waktu panent tanaman kunyit terbaik
adalah pada umur 11 - 12 bulan, yaitu
pada saat gugurnya daun kedua. Saat itu produksi yang diperoleh lebih besar dan lebih banyak bila dibandingkan
dengan masa panen pada umur 7 - 8 bulan. Ciri-ciri tanaman
kunyit yang siap panen ditandai
dengan berakhirnya pertumbuhan vegetatif, seperti terjadi
kelayuan atau perubahan warna daun dan batang
yang semula hijau berubah menjadi kuning. Panen kunyit dilakukan di musim kemarau karena pada saat itu sari
atau zat yang terkandung didalamnya mengumpul. Selain itu kandungan
air dalam rimpang
sudah sedikit sehingga
memudahkan proses pengeringan. Pemanenan dilakukan
dengan cara membongkar rimpang dengan cangkul.
Sebelum dibongkar, batang dan daun dibuang
terlebih dahulu. Selanjutnya rimpang yang telah dibongkar dipisahkan dari tanah yang melekat lalu dimasukkan dalam karung agar tidak rusak.
2.3.4 Pasca Panen
Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk
memisahkan rimpang dari kotoran berupa
tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam
wadah plastik untuk pencucian. Pencucian dilakukan
dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan jika masih
terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau
dua kali lagi.
Pengeringan dapat dilakukan dengan 2
cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat
pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari, atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan
dengan sinar matahari dilakukan diatas tikar
atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira
setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata.Setelah
bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong plastik atau karung yang bersih dan kedap udara. Kondisi
gudang harus dijaga agar tidak lembab. Suhu yang
sesuai dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain
yang menurunkan kualitas bahan yang
bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup.
3. BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan
praktikum dasar
budidaya tanaman
pada
komoditas kunyit dilakukan pada tanggal 21, April 2021- 18
Mei 2021. Tempat dilakukan kegiatan praktikum
dasar budidaya tanaman
berlokasi di Jl. Pasar Yotefa Abeburapa
papua, Kelurahan Wai Mhorock, Kecamatan Abebura, Kota Jayapura, papua. Lokasi kegiatan praktimum dasar
budidaya tanaman berada pada derah dataran
hingga landai dan berbukit/gunung. Dataran
berbukit adalah hamparan luas tanah
dengan tingkat ketinggian yang di ukur dari permukaan laut dan sangat tinggi berbukitan, dengan ketinggian sampai dengan 700 meter di atas permukaaan laut. Suhu pada dataran berbukit
berkisar antara 22 C-31,8ºC. kelembaban udara rata-rata bervariasi
antara 79%-81% di linggungan perkotaan sampai daerah
pinggiran kota.
3.2
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam kegiatan ini
adalah cetok, penyiram tanaman mengunakan
vit, pisau, alat tulis, penggaris, potol
vit,dan pelastik 22 cm x 13,5 cm, dan kamera. Bahan yang digunakan
adalah kunyit, media tanam berupa tanah, arang tempurung, dan debu arang dengan perbandingan 3:1:1, dan air.
3.2 Cara Kerja
3.3.1 Persiapan Bahan Tanam
Bahan
tanam yang digunakan
dalam kegiatan ini adalah bahan tanam vegetatif,
yaitu tanaman kunyit. Pemilihan kunyit yang dijadikan bahan tanam yang baik adalah dengan memilih kunyit yang bersertifikat sehingga kualitas kunyit dapat terjaga. Sebaiknya memilih
bibit dari rimpang kunyit yang sudah tua. Pastikan
pula bibit kunyit berasal dari indukan yang bagus, sehat, dan anti hama. Semakin tua kunyit, maka akan semakin bagus bibit serta tunas yang tumbuh. Bibit kunyit harus
berasal dari indukan
yang umurnya 7-12 bulan. Pembibitan
kunyit dapat dilakukan dengan mengambil rimpang kunyit yang sudah tua. Ciri-ciri rimpang kunyit yang sudah tua adalah munculnya
sebuah tunas.
3.3.2 Persiapan Media Tanam
Langkah
pertama adalah menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam penanaman kunyit. Siapkan media tanah dengan komposisi tanah, arang, dan debu dengan perbandingan 3:1:1. Pengolahan media tanam
dilakukan dengan menggunakan cetok,
kemudian dimasukkan ke dalam plastic ukuran
22 x 13,5 cm hingga penuh. Setelah itu, beri label pada plastic
3.3.3
Penanaman
Kegiatan yang dilakukan terlebih dahulu
adalah membuat lubang sedalam 8 cm pada media tanam yang telah
dipersiapkan. Lalu, masukkan bibit kunyit ke
dalam lubang tersebut. Satu
lubang hanya boleh diisi satu kunyit. Setelah itu, tutup lubang dengan media tanam dan siram
dengan air secukupnya.
3.3.4
Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman kunyit dilakukan dengan berbagai kegiatan, seperti
penyiraman, penyiangan, dan pengendalian OPT. Penyiraman dilakukan
menggunakan penyiram air dengan memberikan air secukupnya yang dilakukan setiap satu minggu sekali, karena kunyit adalah tanaman yang tidak terlalu
menyukai air. Penyiangan dilakukan apabila terlihat
tanaman liar (gulma)
di polibag. Penyiangan dilakukan untuk mengendalikan gulma dengan mencabut tanaman liar hingga akarnya menggunakan
tangan. Pengendalian OPT dilakukan dengan penyiraman pestisida organik ke bagian tanaman
yang terserang/terinfeksi.
3.3.5
Pengamatan
Pengamatan tanaman kunyit dimulai pada 2
MST. Kegiatan terdiri dari kegiatan
pengamatan dan dokumentasi dari waktu muncul tunas, jumlah tunas, dan
tinggi tunas. Waktu muncul tunas dilakukan dengan mengamati pada saat umur berapa kunyit muncul tunas.
Pengamatan jumlah tunas dilakukan dengan mengamati
jumlah tunas yang terdapat pada rimpang kunyit. Pengukuran tinggi tanaman mulai dari pangkal batang di
permukaan tanah hingga pada bagian titik tumbuh.
Pengukuran panjang tanaman diukur mulai pangkal batang hingga pada bagian atau sulur yang terpanjang.
3.4 Parameter Pengamatan
3.4.1
Umur/Waktu Muncul Tunas
Kegiatan dilakukan terdiri dari
pengamatan, dokumentasi, dan pencatatan waktu
muncul tunas. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk mengamati waktu pasti tanaman kunyit muncul tunas. Pengamatan dilakukan
dokumentasi menggunakan kamera HP dan pencatatan menggunakan alat tulis. Biasanya,
setelah 30-45 hari, sedangkan di media tanam
tanah humus dan arang setelah 15- 25 hari, akan muncul tunas baru di rimpang kunyit.
3.4.2
Jumlah Tunas
Kegiatan dilakukan terdiri dari pengamatan dokumentasi, pencatatan jumlah
tunas. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk mengamati waktu pasti jumlah tunas yang muncul pada tanaman
kunyit. Rimpang yang akan digunakan sebagai bibit bertunas memakan waktu yang
lumayan lama. Setelah 3 – 8 minggu di
persemaian, tunas pada rimpang mulai tumbuh. Setiap potongan benih rimpang biasanya kan muncul tunas sekitar 1 – 3 tunas.
3.4.3
Tinggi atau Panjang
Tunas
Kegiatan dilakukan terdiri dari pengamatan dokumentasi, pencatatan kegiatan tinggi atau panjang
tanaman. Pengamatan dilakukan
1 kali dalam seminggu setelah
umur tanaman mencapai 2 MST.
Pengukuran menggunakan penggaris dan
dokumentasi menggunakan kamera serta pencatatan menggunakan alat tulis. Pengukuran tinggi tunas dilakukan
dengan mulai mengamati
dari pangkal batang di
permukaan tanah hingga pada bagian titik tumbuh. Pengukuran panjang tanaman diukur mulai pangkal
batang hingga pada bagian atau sulur yang terpanjang.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1
Umur/Waktu Muncul Tunas
Pengamatan pada parameter umur
kemunculan tunas pada tanaman kunyit dilakukan
setiap hari sampai rimpang kunyit menandakan
adanya kemunculan tunas yang ditanam
pada plastik 22 cm x 13,5 cm.
Pengamatan kemunculan tunas dimulai
dari hari Minggu, 28 Maret 2021. Berikut ini adalah data pengamatan umur kemunculan tunas
pada komoditas kunyit
:
Tabel 1. Umur/Waktu Muncul Tunas
|
Sampel
|
Umur Muncul Tunas (Hari ke-)
|
|
1
2
3
|
8
10
10
|
Table 1, Umur/waktu
Muncul Tunas
Berdasakan data dari tabel pengamatan
umur kemunculan tunas tanaman kunyit
diatas, dapat diketahui bahwa umur kemunculan tunas pada tanaman kunyit rata-rata muncul lebih dari seminggu setelah
penanaman. Berdasarkan pengamatan umur kemunculan tunas yang telah dilakukan, didapatkan hasil pengamatan data
sampel tanaman kunyit pertama, yakni pada hari ke-8 setelah penanaman
rimpang kunyit. Sedangkan
pada data sampel kedua dan ketiga menunjukkan bahwa kedua sampel memiliki persamaan
waktu muncul tunas,
tanaman kunyit menunjukkan kemunculan tunas pada hari ke-10. Dari perbandingan ketiga sampel diatas dapat disimpulkan bahwa sampel pertama
menunjukkan kemunculan tunas yang lebih cepat dibandingkan pada sampel kedua dan ketiga yang mana memiliki
selisih dua hari setelah kemunculan tunas pada
sampel pertama(1).
4.1.2
Jumlah Tunas
Pengamatan pada parameter jumlah tunas pada tanaman kunyit dilakukan dengan menghitung semua tunas yang muncul pada tanaman kunyit di mulai dari 2 MST hingga 5 MST pada plastik 22 centi meter x 13,5 centi
meter. Pengamatan jumlah anakan
dilakukan setiap hari Minggu dimulai pada tanggal 4 April 2021. Berikut
ini adalah data pengamatan jumlah tunas
yang muncul pada tanaman kunyit :
Tabel 2. Jumlah Tunas
|
Sampel
|
Jumlah Tunas
|
|
1
2
3
|
2
1
1
|
Table 2 Jumlah
Tunas
Berdasakan data dari tabel pengamatan
jumlah tunas pada kunyit diatas, dapat
diketahui bahwa jumlah tunas pada
tanaman kunyit pada setiap sampel berbeda. Pada sampel pertama didapati
hasil akhir pengamatan dengan jumlah tunas tanaman
kunyit sebanyak 2 tunas, yang mana sampel ke-1 merupakan
sampel yang memiliki
jumlah tunas terbanyak diantara
sampel lainnya. Pada sampel
kedua jumlah tunas tanaman kunyit pada pengamatan akhir dengan jumlah tunas
sebanyak 1 tunas. Sedangkan, pada sampel ketiga jumlah tunas pada tanaman kunyit saat pengamatan akhir
sebanyak 1 tunas, yang mana sampel ke-2 dan ke-3 merupakan sampel yang memiliki
jumlah tunas yang sama.
4.1.3
Tinggi Tanaman
Pengamatan pada parameter tinggi tanaman pada tanaman kunyit
dilakukan dengan menggunakan penggaris besi dalam satuan cm pada daun
yang paling panjang dengan cara
mengukur tinggi daun dari permukaan media tanam pada tanaman kunyit hingga ke titik ujung tanaman di mulai dari
2 MST hingga 5 MST pada plastik 22cm x 13,5 cm. Pengamatan
tinggi tunas dilakukan setiap hari Minggu
dimulai pada tanggal 4 April 2021. Berikut ini adalah data pengamatan tinggi anakan pada komoditas
kunyit.
Tabel 3. Tinggi Tanaman
|
Sampel
|
Tinggi Tanaman
(cm)
|
|
|
2 MST
|
3 MST
|
4 MST
|
5 MST
|
|
1
|
10
|
20
|
28
|
30
|
|
2
|
8
|
14
|
18
|
24
|
|
3
|
6
|
10
|
20
|
28
|
Table 3 Tinggi
Tanaman
Berdasakan data dari tabel pngamatan
tinggi tanaman kunyit diatas, dapat diketahui
bahwa tinggi tanaman kunyit pada setiap sampel berbeda. Pada saat pengamatan 2 MST, sampel pertama memiliki
tinggi tanaman sebesar 10 cendi meter,
sampel kedua memiliki tinggi tanaman sebesar 8 cendi meter dan sampel ketiga memiliki tinggi tanamanan sebesar 6
cendi meter. Pada sampel pertama pada
pengamta akhir yaitu pada 5 MST didapati hasil tinggi tanaman kunyit yaitu 30
cendi meter, yang mana sampel ke-1 merupakan sampel yang memiliki tinggi tanaman
kunyit tertinggi diantara
sampel lainnya. Pada sampel kedua tinggi tanaman kunyit pada pengamatan akhir yaitu
pada pengamatan 5 MST yaitu 24 centi
meter, dimana sampel kedua merupakan
tinggi tanaman kunyit terendah. Dan pada sampel ketiga tingi anakan
tanaman kunyit pada pengamatan akhir yaitu
pada pengamatan 5 MST yaitu 28 cendi meter.
4.2
Pembahasan
Budidaya tanaman kunyit memiliki
faktor yang mempengaruhi kualitas tanaman kunyit.
Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas
tanaman kunyit antara lain, bibit yang digunakan, penggunaan media tanam yang tepat, dan pemberian pupuk. Pemberian pupuk organik
sangat dibutuhkan tanaman kunyit untuk
mengembalikan sifat fisik dan kimia tanah. Penggunaan bahan organik ke dalam tanah pada sistem pertanian ini
diyakini dapat memperbaiki sifat fisik, kimia,
dan biologi tanah sehingga menentukan warisan untuk generasi mendatang (Sri dan Suci, 2003). Pada praktikum dasar budidaya tanaman ini,
salah satu pupuk yang dapat digunakan
adalah pupuk debu arang temburung.
Arang
tempurung merupakan jenis pupuk yang berasal dari hasil akhir penguraian sisa-sisa
kelapa yang dibakar
maupun tumbuhan yang berfungsi sebagai penyuplai unsur hara tanah,
sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki
tanah secara fisik, kimiawi, maupun biologis (Ilat et al., 2002 dan Taulu et al.,2001)
Penggunaan pupuk Arang tempurung diterapkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kunyit.
Arang tempurung juga berfungsi sebagai pemasok makan untuk mikroorganisme sehingga dapat meningkatkan dan mempercepat dekomposisi bahan organik (Taulu et al.,2001).
4.2.1
Umur/Waktu Muncul Tunas
Berdasarkan pada praktikum dan
pengamatan yang telah dilakukan, Untuk mendapatkan
tunas yang berkualitas, rimpang kunyit yang digunakan sebagai bibit juga haruslah yang berkualitas. Berikut merupakan grafik
umur kemunculan tunas pada tanaman kunyit:
Gambar
2 Umur Muncul Tunas
Dari diagram di atas, terdapat perbedaan
waktu muncul tunas antara plastik 1 dengan
plastik 2 dan 3. Umur kemunculan tunas pada ketiga plastik hanya berjarak
dua hari. Salah satu faktor yang mempengaruhi perbedaan waktu kemunculan tunas adalah perubahan kondisi
fisik dan kimia tanah yang dapat berpengaruh terhadap
pertumbuhan tanaman kunyit.
Penambahan tanah dan pupuk kandang
terbukti mampu memperbaiki sifat fisik
dan kimia tanah seperti memperbaiki struktur, tekstur, dan kandungan unsur hara tanah. tanah menjadi lebih
terstuktur, agregat lebih mantap, kandungan unsur hara meningkat dan mampu mengikat air lebih lama (Nugroho,
2013). Perlakuan yang diberikan
kepada media tanam juga mempengaruhi unsur dan tekstur tanah menjadi lebih baik. Salah satu perlakuan
yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan
bahan organik pada media tanam. Sumber bahan organik tanah adalah hewan. Hewan memberikan banyak
manfaat untuk tanah. Hewan yang banyak
ditemukan di tanah seperti, cacing
tanah, sentipoda dan semut memegang peranan penting dalam perubahan sisa-sisa tumbuhan
(Buckman dan Brady,1982).
4.2.2
Jumlah Tunas
Berdasarkan pada praktikum dan
pengamatan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa jumlah tunas yang muncul ke
permukaan tanah pada setiap plastic
memiliki hasil yang berbeda. Berikut merupakan grafik jumlah tunas yang muncul ke permukaan
tanah pada setiap plastic:
Gambar
3 Jumlah Tunas
Dari grafik di atas, terlihat bahwa
jumlah tunas pada plastic 1 dengan plastic 2 dan 3 memiliki
perbedaan jumlah tunas yang tumbuh. Pada plastik 1 adalah sampel yang memiliki
jumlah tunas paling banyak, sedangkan
pada plastic 2 dan
3 memiliki jumlah tunas yang sama. Terdapat
beberapa faktor penyebab
perbedaan jumlah tunas yang tumbuh pada tanaman
kunyit.
Pertumbuhan jumlah tunas juga dipengaruhi arang debu tempurung yang digunakan
dalam proses pembibitan. Penggunaan arang debu tempurung sebagai bahan tanam disebabkan karena arang debu tempurung memiliki
mata tunas sebagai
embrio tanaman. Arang debu tempurung terdiri dari arang tempurun induk dan
arang tempurung anakan. Menurut Wahyudi (2007) perbedaan jenis arang debu tempurung ini memberikan pengaruh
yang berbeda juga terhadap pertumbuhan tunas yang selanjutnya akan menjadi tanaman yang
subur.
4.2.3
Tinggi Tanaman
Dari hasil pengamatan yang dilakukan, didapatkan bahwa rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman berbeda-beda
pada setiap MST. berikut merupakan grafik pertumbuhan tanaman kunyit :
Gambar
4 Tinggi Tanaman
Berdasarkan grafik pertumbuhan tinggi
tanaman kunyit di atas, dapat diketahui bahwa
hasil pertumbuhan tinggi tanaman memiliki besaran yang berbeda-beda. Pada plastic 1 menunjukkan pertambahan tinggi tanaman
yang paling cepat. Plastic 2 dan 3 memiliki pertambahan
tinggi yang tidak jauh berbeda. Hal ini,
dikarenakan waktu muncul tunas pada Plastic
2 dan 3 yang sama. Data dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, bahwa rata-rata dari ketiga tanaman
kunyit yang ditanam
mengalami pertambahan tinggi tanaman yang semakin minim saat 3 MST. Penyebab terjadinya
yaitu defisiensi unsur hara pada tanaman kunyit
diakibatkan karena tidak memberi perlakuan berupa pemupukan setelah penanaman, yang mengakibatkan pertumbuhan tanaman menj
5.
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Praktikum Dasar Budidaya Tanaman yang
dilaksanakan di pada tanggal 21 Maret,
2021. Bertempat di Jl. Pasar Yotefa Abeburapa papua, Kelurahan Wai Mhorock, Kecamatan Abebura, Kota Jayapura,
provinsi papua. komoditas yang diamati
adalah kunyit (Curcuma domestica Val.). Parameter yang digunakan
pada pengamatan ini meliputi umur umur kemunculan tunas, jumlah tunas
dan tinggi tanaman pada tanaman
kunyit. Perbandingan media tanam yang diaplikasikan
pada tanaman kunyit adalah tanah :
pupuk arang tempurung dengan perbandingan 3 : 1.1
Pengaruh media tanam terhadap
paramter pengamatan yakni umur kemunculan tunas tanaman kunyit, jumlah
tunas dan tinggi tanaman pada tanaman bawang
merah berpengaruh nyata pada pertumbuhan dan perkrmbangan tanaman kunyit.
Hal ini dikarenakan media tanam berupa pupuk kandang
kambing memberikan unsur hara yang
diperlukan tanah agar pertumbuhan dan perkembangan tanaman kunyit menjadi baik. Hal ini juga
dibuktikan pada setiap parameter pengamatan yang
menunjukkan hasil yang signifikan baik terhadap tumbuh kembang tanaman kunyit yaitu
ditandai dengan grafik tinggi tanaman yang terus meningkat.
5.2 Saran
Saran untuk praktikum Dasar Budidaya
Tanaman pada budidaya tanaman kunyit adalah sebaiknya memilih
rimpang kunyit yang sudah tua untuk mempercepat kemunculan tunas pada tanaman kunyit.
Serta, memilih media tanam
yang sesuai dengan kebutuhan tanaman kunyit, karena pertumbuhan dan perkembangan tanaman kunyit tergantung pada perlakuan yang diberikan terhadap tanaman.
Agus, Setiono Setiono, and Hasnelly Hasnelly. 2018.
“Pengaruh Pemberian Pupuk Bokashi
Kotoran Sapi Terhadap
Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman
Kunyit (Curcuma domestica
Val.).” Jurnal Sains Agro 3(2)
Anggarayasa,
C., Yuliartini, M. S., & Andriani, A. A. S. P. R. (2018). Pengaruh
jarak tanam dan pupuk kompos pada pertumbuhan dan hasil tanaman kunyit Gema Agro, 23(2), 162-166.
Atmaja, I. S. W. (2017). Pengaruh Uji Minus One Test pada Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Mentimun. Jurnal Logika, 19(1), 63-68.
Endriani dan Zulhalena. 2008.
“Kajian Beberapa Sifat Fisika Andisol
pada Beberapa Penggunaan Lahan dan beberapa Kelerengan
di Kecamatan Gunung Kerinci”. Universitas
Jambi, Jambi.
Hijra, Hijra, Idham Idham, and Usman Made. 2021. “Pengaruh Ukuran Rimpang Dan Media
Tanam Terhadap Pertumbuhan Bibit Kunyit (Curcuma domestica
Val.).” Agrotekbis : E-Jurnal
Ilmu Pertanian 9(1):128–36.
Kartasapoetra, G. 2011. “Budidaya tanaman
berkhasiat obat: kunyit (Curcuma domestica Val.)”. Jakarta,
PT. Rineka Cipta:
60.
Marlin, Marlin.
2014 “Mikroproporgasi Kunyit
(Curcuma domestica Val.).
Sebagai Bahan Fitofarmaka Potensial.”
Moko,
Hidayat; Mulyoto; Ismiyatiningsih. 2013. “Pengaruh Beberapa Zat Pengatur Tumbuh dan Mulsa Terhadap
Pertumbuhan Tanaman Kunyit.”
Buletin Pertanian Tanaman
Rempah dan Obat, 8 (1) 1993: 30-38.
Nugroho, Nurfina
A. 2006. “Manfaat
dan Prospek Pengembangan Kunyit (Curcuma domestica
Val.) Ungaran,Trubus Agriwidya., 86-87
Sugiartini, E., & Mayasari,
K. (2018). Petunjuk
Teknis Budidaya tanaman
kunyit di Lahan dan di dalam Pot/Polybag
Sumarno., Unang, G., Pasaribu, D. 2009. “Pengayaan Kandungan Bahan Organik
Tanah Mendukung Keberlanjutan Sistem Produksi Kunyit (Curcuma
domestica Val.)” Iptek
Tanaman Pangan, Bogor.
Susilawati,
E. 2007. “Pengaruh Komposisi Media terhadap Pertumbuhan Tanaman Kunyit (Curcuma
domestica Val.)” Skripsi.
Departemen Agronomi dan Hortikultura. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Suyanti, D. S. (2015).
Pemberian Berbagai Jenis Kompos Pada Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman kunyit Di Kabupaten
Pasuruan. Agricola, 5(1), 72-74
Triyono, Kharis. 2018.
“Budidaya Tanaman Kunyit
(Curcuma domestica Val.) Di Desa Margonoto Kecamatan
Gondangrejo Kab. Karanganyar Provinsi
Jawa Tengah.” Adi Widya: J. Pengabdian Masyarakat 2(2):1–10.
Wiroatmodjo, Joedojono, Lontoh, A.P., Nurdin. 2010. “Kajian
Pemberian Pupuk Kompos dan Tingkat
Populasi Terhadap Pertumbuhan Produksi Kunyit
(Curcuma domestica Val.)
Yang ditumpangsarikan Dengan
Jagung Manis
(Zea mays Soccharata). Buletin Agronomi, 21
(2) 1993: 59-63. Jakarta,
Februari 2000
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Data pengamatan
1.
Pengamatan Umur/Waktu
Muncul Tunas
|
Sampel
|
Umur Muncul
Tunas (Hari ke-)
|
|
1
2
3
|
10
12
12
|
2.
Pengamatan Jumlah Tunas
|
Sampel
|
Jumlah Tunas
|
|
1
2
3
|
2
1
1
|
3.
Pengamatan Tinggi Tanaman
|
Sampel
|
Tinggi Tanaman (cm)
|
|
|
2 MST
|
3 MST
|
4 MST
|
5 MST
|
|
1
|
12
|
20
|
28
|
38
|
|
2
|
5
|
10
|
18
|
24
|
|
3
|
6
|
12
|
22
|
32
|
Lampiran
2 Logbook kegiatan
|
No.
|
Hari, tanggal
|
Deskripsi Kegiatan
|
Dokumentasi
|
|
1.
|
Sabtu, 20
Maret 2021
|
Memulai kegiatan
praktikum, meliputi persiapan alat dan bahan
|
|
|
2.
|
Sabtu, 20
Maret 2021
|
Persiapan media
tanam
|
|
|
3.
|
Sabtu, 20
Maret 2021
|
Penanaman
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Sabtu, 27
Maret 2021
|
Melakukan pengamaatan waktu muncul tunas.
|
|
|
5.
|
Minggu, 4
april 2021
|
Pengamatan tinggi tanaman dan jumlah tunas pada 2 MST
|
|
|
6.
|
Minggu, 11
April 2021
|
Pengamatan tinggi tanaman pada 3 MST
|
|
|
7.
|
Minggu, 18
April 2021
|
Pengamatan tinggi tanaman pada 4 MST
|
|
|
8.
|
Kamis, 6
Mei 2021
|
Asistensi laporan
|
|